Saya Menyesal Jadi Guru

Dulu saya berpikir kenapa saya tersesat jadi guru, parahnya lagi guru waktu itu dianggap warga kelas 2 dalam jenjang kepegawaian di pemerintahan daerah. Sampai dulu pernah di bilang “Guru itu pangkatnya Jendral tapi gajinya kopral”. Tapi itu dulu, kata Omjay. Coba saja rekan guru pns di Jakarta tunjangan daerahnya 3 juta/bulan, itu baru tunjangan daerah. Jadi rata-rata mereka mendapat gaji 10 juta kurang🙂 dengan kerja setengah hari. Sampai Omjay bilang di Jakarta jadi pns guru jadi favorit di Jakarta, dibandingkan jadi pns dosen.
Coba saja kalau dosen punya mahasiswa rata-rata sekali mengajar jumlahnya 75 sampai 100 orang bahkan lebih, ngajarnya ada yang jam sore ada yang malam. Kalau guru rata-rata kelas 35 orang, dan mengajarnya sampai siang, bandingkan.

Mengenai dosen, saya dulu pernah ingat dalam sebuah seminar guru, di undanglah seorang dosen dari perguruan tinggi di kota kami. Waktu itu moderator salah menyebut profesi pembicara seminar, seharusnya dosen disebut moderator guru. Sang dosen buru-buru meralat katanya,”Maaf saya seorang dosen, bukan guru”

Heran saya, sepertinya predikat guru benar-benar kelas dua, tapi coba lihat giliran promosi jadi Profesor, dengan bangganya dosen menyebut dirinya “Guru Besar”, aneh kenapa tidak “Dosen Besar” saja.

Makanya tidak salah saya bilang, “saya menyesal jadi guru, kenapa tidak dari dulu”

image

Categories: Opini | Tags: , , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Saya Menyesal Jadi Guru

  1. kalauguru besar dimiliki dosen, kini giliran dosen besar milik guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: